Kurangi volume kredit konsumtif

Sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan Dunia lebih suka hal-hal yang bersifat konsumtif atau membeli barang yang habis dipakai dan tidak menghasilkan uang. ini menjadi tantangan tersendiri untuk account officer dalam hal penyaluran kredit. ada beberapa hal yang harus disadari oleh seorang account officer :



1. Kredit konsumtif adalah kredit yang habis terpakai dan tidak menghasilkan uang
2. Kredit konsumtif selalu digunakan untuk barang yang konsumtif atau habis terpakai
3. Kredit konsumtif tetap harus membayar bunga kepada bank
4. Sebagian besar pembayaran kredit konsumtif dibayar dari GAJI.

dari 4 hal diatas itu maka seorang account officer lebih cermat dalam penyaluran kredit, dengan berbagai analisa yang biasa dilakukan, tetapi juga harus menggunakan perasaan, maksudnya jika sekiranya seorang calon debitur tidak mampu untuk membayar atau account officer ragu memberikan kredit, sebaikanya segera batalkan pengajuan kreditnya mengingat sebagian besar orang membayar kredit dari GAJI dan kita tidak tahu apakah dia bisa bertahan lama di perusahaan tempatnya bekerja atau tidak, apakah perusahaan tempat bekerjanya sedang dalam krisis dan hampir bangkrut, atau calon debitur tersebut bermental buruk sehingga berpengaruh pada pekerjaan nya sehari-hari yang berpotensi dia dipecat dari perusahaannya.

Prinsip 5 C dalam analisa kredit

1.  Character
Character merupakan sifat atau watak seseorang. Sifat atau watak dari seseorang yang akan diberikan kredit benar-benar harus dipercaya. Dalam hal ini bank meyakini benar bahwa calon debiturnya memiliki reputasi baik, artinya selalu menepati janji dan tidak terlibat hal-hal yang berkaitan dengan kriminalitas, misalnya penjudi, pemabuk, atau penipu. Untuk dapat membaca sifat atau watak dari calon debitur dapat dilihat sari latar belakang nasabah, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya, keadaan keluarga, hobi dan jiwa sosial.
2.  Capacity
Capacity adalah analisis untuk mengetahui kemampuan nasabah dalam membayar kredit. Bank harus mengetahui secara pasti atas kemampuan calon debitur dengan melakukan analisis usahanya dari waktu ke waktu. Pendapatan yang selalu meningkat diharapkan kelak mampu melakukan pembayaran kembali atas kreditnya. Sedangkan bila diperkirakan tidak mampu, bank dapat menolak permohonan dari calon debitur. Capacity sering juga disebut dengan nama Capability.
3.  Capital
Capital adalah kondisi kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan yang dikelola calon debitur. Bank harus meneliti modal calon debitur selain besarnya juga strukturnya. Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dapat dilihat dari laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba) yang disajikan dengan melakukan pengukuran seperti dari segi likuiditas dan solvabilitasnya, rentabilitas dan ukuran lainnya.
4.  Condition
Pembiayaan yang diberikan juga perlu mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dikaitkan dengan prospek usaha calon nasabah. Penilaian kondisi dan bidang usaha yang dibiayai hendaknya benar-benar memiliki prospek yang baik, sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relatif kecil.
5.  Collateral
Collateral merupakan jaminan yang diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun yang nonfisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus diteliti keabsahannya, sehingga jika terjadi sesuatu, maka jaminan yang dititipkan akan dapat dipergunakan secepat mungkin.

Bagikan